Katulampa Siaga I, Warga Jakarta Bersiaplah Pagi Ini!

JAKARTA, KOMPAS.com — Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencara Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, ketinggian air di Pintu Air Katulampa per Rabu (29/1/2014) pukul 23.27 adalah 220 sentimeter (cm) atau Siaga I. Sementara itu, ketinggian air di Pintu Air Depok per pukul 23.00 adalah 180 cm atau Siaga IV, dan Pintu Air Manggarai per pukul 23.52 adalah 780 cm atau Siaga III.

“Banjir kiriman bagi bantaran Sungai Ciliwung hilir diperkirakan sekitar 9-11 jam setelah pukul 23.00 WIB atau Kamis (30/1/2014) pukul 08.00-10.00 WIB,” kata Sutopo kepada Kompas.com, Rabu.

Sebelumnya, hujan yang mengguyur Jakarta dan sekitarnya sejak Selasa malam hingga Rabu (29/1/2014) pagi menyebabkan banjir di sejumlah wilayah. Warga pun kembali didera kesulitan karena tak dapat beraktivitas atau didera kemacetan parah.

Sejumlah sungai di Jakarta dan Bekasi, sesuai warta Kompas Siang, meluap sejak Selasa malam. Sungai Ciliwung kembali meluap sehingga kembali menggenangi Jalan Abdullah Syafei yang menghubungkan Kampung Melayu di Jakarta Timur dengan Tebet di Jakarta Selatan.

Luapan Ciliwung juga kembali membuat para pengungsi yang sudah lebih dari sepekan tidur di tenda pengungsian di Jalan Jatinegara Barat waswas.

Masih di wilayah timur Jakarta, Sungai Cipinang dan Sungai Sunter juga meluap sehingga menyebabkan banjir di sejumlah kawasan atas, seperti Kampung Makassar, Cililitan, dan Cipinang Melayu.

Berdasarkan pantauan Kompas, muka air di Kanal Timur naik cukup signifikan. Meski masih jauh dari bibir tanggul, muka air Kanal Timur ini menghambat aliran sejumlah sungai dan saluran drainase dari wilayah Bekasi yang bermuara di Kanal Timur.

Sejumlah perumahan yang dilintasi Sungai Baru atau Sungai Cikunir, misalnya, tergenang sejak Selasa malam. Perumahan Nasio di Cikunir, Duta Kranji, dan Harapan Baru II di Bekasi Barat, misalnya, kembali dilanda banjir.

Di Tangerang, Banten, sejumlah perumahan juga terendam banjir. Taruna Siaga Bencana Kota Tangerang menyatakan, empat perumahan di Kota Tangerang terendam banjir dengan ketinggian air mencapai 2,5 meter. Keempat perumahan itu adalah Ciledug Indah I dengan ketinggian air mencapai 20 cm dan Kompleks Departemen Dalam Negeri setinggi 50-70 cm. Selain itu, air setinggi 40 cm merendam perumahan Puri Cipondoh Asri.

Banjir paling parah terjadi di Perumahan Total Persada dengan ketinggian air mencapai 2,5 meter.

Luapan air Sungai Ledug akibat kiriman dari Bogor, Jawa Barat, ditambah curah hujan dengan intensitas tinggi sejak Selasa (28/1/2014) malam hingga Rabu dini hari mengakibatkan perumahan yang menjadi langganan banjir tersebut kembali terendam.

Mumu (25), warga Total Persada, mengatakan, air mulai masuk rumah sekitar pukul 02.00 dini hari. ”Sebagian warga sudah mengungsi. Namun, sebagian lagi masih bertahan di rumah masing-masing,” kata Mumu.

Di Jakarta Selatan, Sungai Krukut juga meluap. Akibatnya, sejumlah ruas jalan yang dilintasi sungai ini terendam banjir sehingga tak bisa dilintasi, seperti Jalan Kapten Tendean dekat Tarakanita, juga di Jalan Kemang. Menurut sejumlah warga di Jalan Pulo Raya, banjir akibat luapan Sungai Krukut kali ini adalah yang terbesar sejak 2007.

Menurut Ny Mahaga, warga Pulo Raya 4, air masuk ke rumah seperti air bah. ”Datangnya tiba-tiba. Arus sangat deras seperti arung jeram. Kaca pintu rumah di bagian belakang dan pintu depan pecah diterjang air,” katanya.

Datangnya banjir yang tiba-tiba dan seperti bah, menurut warga yang tinggal di sana sejak 1962 itu, karena tanggul di belakang rumahnya jebol.

Hujan yang turun sejak pukul 24.00 juga menambah parah banjir di wilayah itu. Warga berharap pemerintah segera memperbaiki tanggul yang jebol itu karena musim hujan baru akan mencapai puncaknya pada Februari nanti.

Berdasarkan laporan dari akun Twitter @TMCPoldaMetro milik Traffic Management Center Polda Metro, genangan air masih membanjiri permukiman warga ataupun jalanan, seperti Mangga Dua, Ciledug, Daan Mogot, Gunung Sahari, ataupun Cengkareng. Foto-foto yang menggambarkan kepadatan lalu lintas di jalan tol akibat banjir juga diunggah.

Kondisi ini memaksa pihak kepolisian untuk memberikan dispensasi bagi pemberlakuan pengendalian lalu lintas 3 in 1 pada hari Rabu (29/1).

Selain itu, akun Badan Penanggulangan Bencana Daerah DKI Jakarta menginformasikan, kawasan Pintu Air Karet mendapatkan perhatian utama karena tinggi muka air di sana mencapai 610 cm dan dikategorikan Siaga I.

KRL terganggu

Selain menggenangi permukiman, banjir di sejumlah tempat di Jakarta juga mengganggu lalu lintas di jalan raya ataupun kereta komuter.

Genangan yang tinggi di Jalan DI Panjaitan, misalnya, membuat pengendara tak bisa melintas. Sejumlah sepeda motor dari arah Cawang kemudian naik ke Jalan Tol Layang Wiyoto Wiyono.

Sebaliknya, sejumlah pengendara yang akan turun ke Halim/Kalimalang dari arah Tanjung Priok terpaksa berhenti di bahu jalan tol. Mereka mengamati dahulu kondisi genangan di Jalan DI Panjaitan. Setelah yakin tidak bisa keluar, mereka akhirnya meneruskan perjalanan ke arah Tol Cikampek dan keluar di Pondok Gede Barat.

Banjir juga mengganggu perjalanan kereta commuter line karena rel kereta di Stasiun Kampung Bandan terendam. Perjalanan kereta rel listrik (KRL) commuter line jurusan Bogor-Jatinegara akhirnya dihentikan sejak pukul 09.00. KRL dari Bogor hanya sampai di Stasiun Duri, Jakarta Barat, sedangkan KRL dari Jatinegara hanya sampai di Kemayoran.

 

Katulampa Siaga I, Warga Jakarta Bersiaplah Pagi Ini!

JAKARTA, KOMPAS.com— Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencara Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, ketinggian air di Pintu Air Katulampa per Rabu (29/1/2014) pukul 23.27 adalah 220 sentimeter (cm) atau Siaga I. Sementara itu, ketinggian air di Pintu Air Depok per pukul 23.00 adalah 180 cm atau Siaga IV, dan Pintu Air Manggarai per pukul 23.52 adalah 780 cm atau Siaga III.”Banjir kiriman bagi bantaran Sungai Ciliwung hilir diperkirakan sekitar 9-11 jam setelah pukul 23.00 WIB atau Kamis (30/1/2014) pukul 08.00-10.00 WIB,” kata Sutopo kepada Kompas.com,Rabu.Sebelumnya, hujan yang mengguyur Jakarta dan sekitarnya sejak Selasa malam hingga Rabu (29/1/2014) pagi menyebabkan banjir di sejumlah wilayah. Warga pun kembali didera kesulitan karena tak dapat beraktivitas atau didera kemacetan parah.Sejumlah sungai di Jakarta dan Bekasi, sesuai warta Kompas Siang, meluap sejak Selasa malam. Sungai Ciliwung kembali meluap sehingga kembali menggenangi Jalan Abdullah Syafei yang menghubungkan Kampung Melayu di Jakarta Timur dengan Tebet di Jakarta Selatan.Luapan Ciliwung juga kembali membuat para pengungsi yang sudah lebih dari sepekan tidur di tenda pengungsian di Jalan Jatinegara Barat waswas.Masih di wilayah timur Jakarta, Sungai Cipinang dan Sungai Sunter juga meluap sehingga menyebabkan banjir di sejumlah kawasan atas, seperti Kampung Makassar, Cililitan, dan Cipinang Melayu.Berdasarkan pantauan Kompas, muka air di Kanal Timur naik cukup signifikan. Meski masih jauh dari bibir tanggul, muka air Kanal Timur ini menghambat aliran sejumlah sungai dan saluran drainase dari wilayah Bekasi yang bermuara di Kanal Timur.

Sejumlah perumahan yang dilintasi Sungai Baru atau Sungai Cikunir, misalnya, tergenang sejak Selasa malam. Perumahan Nasio di Cikunir, Duta Kranji, dan Harapan Baru II di Bekasi Barat, misalnya, kembali dilanda banjir.

Di Tangerang, Banten, sejumlah perumahan juga terendam banjir. Taruna Siaga Bencana Kota Tangerang menyatakan, empat perumahan di Kota Tangerang terendam banjir dengan ketinggian air mencapai 2,5 meter. Keempat perumahan itu adalah Ciledug Indah I dengan ketinggian air mencapai 20 cm dan Kompleks Departemen Dalam Negeri setinggi 50-70 cm. Selain itu, air setinggi 40 cm merendam perumahan Puri Cipondoh Asri.

Banjir paling parah terjadi di Perumahan Total Persada dengan ketinggian air mencapai 2,5 meter.

Luapan air Sungai Ledug akibat kiriman dari Bogor, Jawa Barat, ditambah curah hujan dengan intensitas tinggi sejak Selasa (28/1/2014) malam hingga Rabu dini hari mengakibatkan perumahan yang menjadi langganan banjir tersebut kembali terendam.

Mumu (25), warga Total Persada, mengatakan, air mulai masuk rumah sekitar pukul 02.00 dini hari. ”Sebagian warga sudah mengungsi. Namun, sebagian lagi masih bertahan di rumah masing-masing,” kata Mumu.

Di Jakarta Selatan, Sungai Krukut juga meluap. Akibatnya, sejumlah ruas jalan yang dilintasi sungai ini terendam banjir sehingga tak bisa dilintasi, seperti Jalan Kapten Tendean dekat Tarakanita, juga di Jalan Kemang. Menurut sejumlah warga di Jalan Pulo Raya, banjir akibat luapan Sungai Krukut kali ini adalah yang terbesar sejak 2007.

Menurut Ny Mahaga, warga Pulo Raya 4, air masuk ke rumah seperti air bah. ”Datangnya tiba-tiba. Arus sangat deras seperti arung jeram. Kaca pintu rumah di bagian belakang dan pintu depan pecah diterjang air,” katanya.

Datangnya banjir yang tiba-tiba dan seperti bah, menurut warga yang tinggal di sana sejak 1962 itu, karena tanggul di belakang rumahnya jebol.

Hujan yang turun sejak pukul 24.00 juga menambah parah banjir di wilayah itu. Warga berharap pemerintah segera memperbaiki tanggul yang jebol itu karena musim hujan baru akan mencapai puncaknya pada Februari nanti.

Berdasarkan laporan dari akun Twitter @TMCPoldaMetro milik Traffic Management Center Polda Metro, genangan air masih membanjiri permukiman warga ataupun jalanan, seperti Mangga Dua, Ciledug, Daan Mogot, Gunung Sahari, ataupun Cengkareng. Foto-foto yang menggambarkan kepadatan lalu lintas di jalan tol akibat banjir juga diunggah.

Kondisi ini memaksa pihak kepolisian untuk memberikan dispensasi bagi pemberlakuan pengendalian lalu lintas 3 in 1 pada hari Rabu (29/1).

Selain itu, akun Badan Penanggulangan Bencana Daerah DKI Jakarta menginformasikan, kawasan Pintu Air Karet mendapatkan perhatian utama karena tinggi muka air di sana mencapai 610 cm dan dikategorikan Siaga I.

KRL terganggu

Selain menggenangi permukiman, banjir di sejumlah tempat di Jakarta juga mengganggu lalu lintas di jalan raya ataupun kereta komuter.

Genangan yang tinggi di Jalan DI Panjaitan, misalnya, membuat pengendara tak bisa melintas. Sejumlah sepeda motor dari arah Cawang kemudian naik ke Jalan Tol Layang Wiyoto Wiyono.

Sebaliknya, sejumlah pengendara yang akan turun ke Halim/Kalimalang dari arah Tanjung Priok terpaksa berhenti di bahu jalan tol. Mereka mengamati dahulu kondisi genangan di Jalan DI Panjaitan. Setelah yakin tidak bisa keluar, mereka akhirnya meneruskan perjalanan ke arah Tol Cikampek dan keluar di Pondok Gede Barat.

Banjir juga mengganggu perjalanan kereta commuter line karena rel kereta di Stasiun Kampung Bandan terendam. Perjalanan kereta rel listrik (KRL) commuter line jurusan Bogor-Jatinegara akhirnya dihentikan sejak pukul 09.00. KRL dari Bogor hanya sampai di Stasiun Duri, Jakarta Barat, sedangkan KRL dari Jatinegara hanya sampai di Kemayoran.